Masih inget bener waktu suami nawari 'bun ikut liqo ya?....apaan itu yah?...mengkaji isi hadist dan alquran buat nambah ilmu,biar bisa jawab nanti klo ditanya sama anaknya....ngapain aja disitu? malu nih belum lancar baca alqurannya,gak ngeh (sambil mbayangin yg nggak - nggak) gimana orang2nya,obrolannya (belum2 udah minder nih)...coba dulu aja,ntar klo gak nyaman ya terserah bunda.....iya wes tak coba dulu.
Bulan Januari tahun 2005 awal saya ikut kajian pekanan atau keluarga suami nyebutnya liqo, waktu itu murabbi pertamaku teh ida orang sunda dan teman2 yang kebanyakan masih mahasiswa ternyata mereka baik2 banget,ramah dan enak diajak ngobrol....langsung jatuh cinta...ilmunya bener2 bermanfaat dari yang gak tau sama sekali akhirnya jadi tau, pas klo dibuat penawar hati yang sedang gundah gulana.
Tiap pulang liqo selalu ada ilmu baru, cerita baru, dan pengalaman baru dan yang selalu saya ceritakan ke suami.....hikmahnya saya jadi lebih sabar dan tawakal, dimana aja bahkan di kantor pun dengan karakter orang yang heterogen bisa menjadikan saya belajar untuk ikhlas dalam menghadapi setiap masalah,selalu mikir panjang klo mw melakukan sesuatu, alhamdulillah.
Disini ternyata gak cuma ilmu agama aja yang diajarin tp gimana cara menerapkan ilmu agama tadi dalam kehidupan sehari2, dalam bekerja, dalam hidup bersosial dan terutama dalam urusan2 negara, bahkan dalam trending topic pun masuk....
Bener kata pepatah 'tak kenal maka tak sayang' sudah empat murabbi yang membimbing saya dari teh ida rolling ke mbak nur terus ke teh ida lagi...ganti ke mbak atik rolling lagi ke mbak heni....semoga Allah selalu memberkahi mereka...aamiin. Sekarang klo gak datang liqo rasanya rugi banget gitu...temen liqo yang selalu saling ngasih semangat buat sholat dhuha, qiyamul lail, setoran hapalan quran (klo ini kalah sama anak saya yang lebih banyak hapalannya he he), puasa sunah, silahturahmi sampe sharing dari baca2 buku yang bermanfaat.....bener2 kerja dan cinta yang melahirkan harmoni
Jadi apa mesti ditakutkan dalam hidup ini? setiap masalah yakin pasti ada jalan keluarnya, ada Allah yang selalu menolong dan melindungi...takut hanya kepada Allah....Allahuakbar
Ya Allah selalu kuatkan iman kami dan selalu tanamkan hidayah ini di hati kami...aamiin
Total Pageviews
Tuesday, 25 June 2013
Tuesday, 14 May 2013
::Berapa Lama Waktu yang Kubutuhkan untuk Menghafal al-Qur’an?
Mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
menghafal al-Qur’an akan sangat membantu mengatur waktu. Berikut durasi waktu
yang dibutuhkan dalam hal ini.
Jika tertulis:
1 ayat—>17 7 9
Maka ini bermakna:
Jika anda menghafal 1 ayat per hari maka untuk
menghafal 30 juz dibutuhkan waktu:
17 tahun
7 bulan
9 hari.
1 ayat—> 17 7 9
2 ayat—> 8 9 19
3 ayat—> 5 10 13
4 ayat—> 4 4 24
5 ayat—> 3 6 7
6 ayat—> 2 11 4
7 ayat—> 2 6 3
8 ayat—> 2 2 12
9 ayat—> 1 11 12
10 ayat—> 1 9 3
11 ayat—> 1 7 6
12 ayat—> 1 5 15
13 ayat—> 1 4 6
14 ayat—> 1 3 0
15 ayat—> 1 2 1
16 ayat—> 1 1 6
17 ayat—> 1 0 10
18 ayat—> 0 11 19
19 ayat—> 0 11 1
20 ayat—> 0 10 16
1 halaman—> 1 8 12
2 halaman ayat—> 0 10 6
Kami kutip dari buku Kurikulum Pendidikan Anak Muslim yang disusun oleh syaikh Fuhaim Musthafa, hal 127-128, penerbit Pustaka Elba, Surabaya, 2009
Friday, 19 April 2013
PEREMPUAN CERDAS
"Jangan kita salah kaprah
mengartikan emansipasi karena misi Ibu Kartini, perempuan tetap menjadi ibu dan
menjadi mahkota di dalam rumahnya,"
~ Neno Warisman bicara tentang perempuan cerdas ~
Martapura, Kalimantan Selatan (ANTARA News) - Neno
Warisman, penyanyi dan bintang film era 1980-an yang kini aktif dalam kegiatan
sosial dan pendidikan, berbicara tentang perempuan-perempuan cerdas di hadapan
para ibu di Martapura, Ibu Kota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Mengenakan baju warna ungu muda dan jilbab ungu
tua, perempuan bernama lengkap Titi Widoretno Warisman itu bercerita tentang
semangat Kartini, salah satu perempuan Indonesia yang dia nilai cerdas.
"Banyak teladan yang bisa dipetik dari
kehidupan Ibu Kartini, yang bisa diwujudkan dalam kehidupan sekarang, tetapi
jangan salah mengartikan," kata perempuan yang lahir di Banyuwangi pada 21
Juni 1964 itu.
Ia mengaku sedih, emansipasi yang diperjuangkan
Kartini telah salah diartikan oleh sebagian perempuan, membuat mereka berlomba
mengejar peran di sektor publik dan meninggalkan keluarga.
"Hal ini pasti membuat Ibu Kartini
menangis," kata wanita peraih penghargaan Inspiring Woman PKS Award 2008
ini
"Saya cuma ingin mengatakan, jangan melemparkan
ini sebagai misi Kartini. Jangan kita salah kaprah mengartikan emansipasi
karena misi Ibu Kartini, perempuan tetap menjadi ibu dan menjadi mahkota di
dalam rumahnya," katanya.
Perempuan yang pernah kuliah di Fakultas Sastra
Perancis Universitas Indonesia itu juga mengatakan perempuan-perempuan yang
cerdas merupakan salah satu kunci percepatan pembangunan suatu daerah.
"Dari lubuk hati saya selalu berharap dan
berdoa, Ya Allah lahirkan lebih banyak lagi perempuan yang cerdas dan berhati
nurani, karena perempuan demikian mempercepat kemajuan dan pembangunan,"
kata Neno Warisman.
(Antara)
Subscribe to:
Posts (Atom)